Menu

Mode Gelap
Perputaran Uang Capai Rp9,2 Miliar di Acara Bhayangkara Fest 2026 Polda Aceh, Tercatat 85 Ribu Lebih Pengunjung Hadir Investasi Tembus Rp406 Miliar di Awal 2026, TRK: Peluang Investasi Besar yang Tengah Dipersiapkan 200T STIMI Meulaboh Lepas KKN-KPM, Camat Kaway XVI: Kehadiran Mahasiswa Harus Memberikan Manfaat Nyata  Sempat di Kritik, Mahasiswa Simeulue ini Apresiasi Sikap Terbuka Ketua Fraksi DPRA Nasdem Dapil 10  Perkuat Nilai Keagamaan, Pemuda Samatiga Gelar Beut Panteu Keude Perdana di Cot Seumeureung Puluhan Tahun Menanti Bantuan Pemerintah Tak Kunjung Tiba, Kini Warga Pasie Kualaba’u Galang Donasi Mandiri 

Nasional

Sayed Mustafa Ungkap Lobi Rahasia dengan Jusuf Kalla, Kini Puji Mualem dan Prabowo Kembalikan 4 Pulau

badge-check


					Sayed Mustafa Ungkap Lobi Rahasia dengan Jusuf Kalla, Kini Puji Mualem dan Prabowo Kembalikan 4 Pulau Perbesar

Narasiterkini.com, Banda Aceh – Keputusan pengembalian empat pulau di Aceh Singkil ke dalam wilayah administrasi Provinsi Aceh tidak hanya soal batas teritorial, tetapi juga menyangkut marwah perjuangan dan komitmen terhadap keberlanjutan perdamaian Aceh. Hal itu disampaikan oleh Sayed Mustafa Usab, eks kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Tripoli Libya, mantan Koordinator GAM wilayah Barat Selatan Aceh sekaligus mantan anggota DPR RI periode 2012-2014.

Menurutnya, pengembalian empat pulau tersebut merupakan bukti nyata bahwa penyelesaian persoalan Aceh masih selaras dengan semangat perdamaian yang lahir dari kesepakatan MoU Helsinki.

Disisi lain, dirinya juga meyakini bahwa kedekatan Presiden Prabowo dengan Mualem juga menjadi faktor penting kembalinya ke-empat pulau itu ke Aceh.

“Kalau yang lain-lain itu hanya bumbu-bumbu saja, peumameh kuah istilah bahasa Acehnya. Kalau bukan karena hubungan dekat Mualem dengan Presiden Prabowo, empat pulau itu mungkin akan rumit dan berliku” tegas Sayed Mustafa, Jumat, (20/6/2025).

Ia menegaskan, keempat pulau tersebut bukan sekadar wilayah administrasi, tetapi juga menjadi bagian dari jejak panjang sejarah perjuangan Aceh dalam konflik masa lalu.

“Pulau-pulau itu juga menyimpan banyak kisah perjuangan GAM dulu, di sana salah satu tempat kita bertahan. Maka saya acungkan double jempol untuk Mualem atas keberhasilan ini,” ungkapnya.

Selain itu, Sayed Mustafa juga mengungkapkan bagaimana dirinya ikut terlibat dalam upaya awal membuka pintu perdamaian.

“Di tengah situasi yang kian panas antara pemerintah RI dan GAM, pada Oktober 2003 saya ikut dalam lobi dengan Pak Jusuf Kalla di Hotel Okura, Amsterdam. Di sana lah awal dialog dibuka, yang kemudian melahirkan MoU Helsinki sebagai pondasi perdamaian Aceh,” jelasnya.

Menurutnya, pengembalian empat pulau ini tidak bisa dipisahkan dari semangat kesepakatan damai tersebut.

“Apa yang terjadi hari ini sesungguhnya, bagian dari implementasi cita-cita MoU Helsinki, yaitu penghormatan penuh terhadap keistimewaan dan hak-hak Aceh. Kembalinya empat pulau ini merupakan wujud nyata pengakuan terhadap kedaulatan Aceh dalam bingkai NKRI seperti yang disepakati dalam MoU Helsinki,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Sayed Mustafa juga menekankan pentingnya pemerintah pusat untuk kembali menjadikan butir-butir MoU Helsinki sebagai pedoman utama dalam merawat perdamaian dan membangun Aceh ke depan.

“MoU Helsinki adalah fondasi perdamaian berkelanjutan. Pemerintah pusat harus mempedomani kembali seluruh butir-butir perjanjian itu. Jangan sampai terjadi pengabaian yang justru melemahkan kepercayaan rakyat Aceh,” ujar Sayed.

Ia menegaskan, perdamaian Aceh yang telah terjaga hampir dua dekade harus tetap dirawat dengan komitmen dari seluruh pihak, terutama pemerintah pusat.

“Momentum pengembalian empat pulau ini bukan sekadar kemenangan rakyat Aceh mengembalikan haknya, tetapi pesan kuat bahwa penyelesaian masalah Aceh harus terus mengacu pada MoU Helsinki. Perdamaian ini lahir dari pengorbanan besar, jangan sampai rusak oleh nafsu kekuasaan sesaat,” tegasnya.

“Sekarang saatnya semua pihak mesti memberikan kepercayaan dan dukungan kepada Mualem dalam memimpin serta memperjuangkan kemajuan Aceh sesuai dengan harapan MoU Helsinki sebagai mana yang telah kita perjuangkan bersama dulu ,” tutup Sayed Mustafa.(*)

 

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Putra Laweung Terpilih Pimpin KUPI Periode 2026–2030

15 Juni 2026 - 08:26 WIB

Polres Nagan Raya Adakan Jalan Santai dan Senam Bersama, Sediakan 170 Doorprize

10 Juni 2026 - 14:43 WIB

DPN PERMAHI: Gas South Andaman Harus Dikelola untuk Sebesar-Besarnya Kemakmuran Rakyat Aceh

2 Juni 2026 - 22:50 WIB

Brimob Batalyon C Pelopor Ikuti Upacara Hari Lahir Pancasila Bersama Segenap Unsur

1 Juni 2026 - 15:40 WIB

Ini Sasaran TMMD ke-128 di Tangan-Tangan tahun 2026

23 April 2026 - 01:18 WIB

Trending di Nasional