Narasiterkini.com, Meulaboh – Munculnya aksi tandingan pada kemarin lalu di depan Polres Aceh Barat hingga kini masih menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial seperti grub WhatsApp di kolom komentar tiktok, hingga di warung-warung kopi.
Pasalnya setelah gelombang pertama melakukan aksi protes terkait dugaan ketidakadilan pada penegak hukum di polres setempat, setelah itu muncul aksi gelombang kedua menggunakan bus pariwisata yang mengangkut sekitar 20 orang diduga mahasiswa dari Banda Aceh.

Massa Aksi gelombang kedua tampak terlihat melakukan aksi seperti pada umumnya saling bertukar orasi di tengah ketatnya pengawasan dari pihak kepolisian setempat. Menariknya sejumlah poster yang dibawa mereka tampak kritikan sindiran terhadap korlap aksi pada gelombang pertama.
Adapun poster itu bertuliskan kritikan bersifat personal antara korlap aksi pertama dengan aksi gelombang kedua, isi poster itu yakni “hukum kau tipu tapi luka korban tak bisa kau sembunyikan Deni -rona” hukum bukan milik Deni dan rona” Deni bukan kepala polisi” pengacara abal-abalan”
Dari sejumlah tuntutan yang diajukan oleh aksi gelombang kedua kepada kepolisian setempat diduga bertolak belakang atau saling berbenturan, dalam orasi mereka menyebutkan bahwa kasus -kasus yang ia sampaikan agar dikembalikan ke desa sebagaimana diatur dalam Qanun Aceh.

Anehnya tuntutan aksi gelombang kedua itu seolah membungkam aspirasi masyarakat (korban) yang di sampaikan melalui aksi gelombang pertama yang di dampingi oleh Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Keadilan Indonesia (YLBH-KI). Kejadian itu pun menuai komentar sensitif diberbagai media massa hingga platform media sosial lainnya.
Seperti salah satunya berita yang baru di lemparkan ke sebuah grub WhatsApp, berjudul “365 hari korban kekerasan menanti keadilan polisi lamban menangani kasus pelaku bebas berkeliaran” adapun kasus ini terjadi di wilayah hukum polres Aceh Barat.
Berdasarkan sumber media Info Aktual, kasus tersebut telah dilaporkan oleh anak kandung korban , Veni (46) ke polres Aceh Barat pada Sabtu , 7 Juni 2025, dan tercatat dalam laporan polisi Nomor: LP/94/VI/2025/SPKT/POLRES
ACEH BARAT/POLDA ACEH.

Berita itupun kini mendapatkan komentar empati disalah satu grub WhatsApp mengatakan” nenek harus berjuang dan kami bersama nenek, jangan sampai buzer melawan nenek dan mutarkan fakta,” sebut salah satu anggota grub, komentar lainnya juga berpendapat ” rupanya ada yang lain lagi jugak ya Allah, mana ni yang pembela2 itu? Lihat ini korban lain muncul ke publik, waktu ada yang advokasi masalah yang zalim, malah dibilang intervensi.
Tidak hanya di grub- grub watshaap Namun ternyata, beberapa di antaranya justru menuai kritikan pedas di kolom komentar tiktok, sebuah video aksi yang di upload di akun @nasajanrakyat begini komentar nya, “demo yang datang pakek bus mewah ini ya? mahasiswa sekarang pakai bus mewah aksinya” apa yg harus di diselesaikan di desa kasus ap yang harus desa tangani pelajari dulu kasus-kasus yang bersangkutan.














