Narasiterkini.com | Blangpidie – Siswi kelas XII SMA Negeri Tunas Bangsa, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Qarira Qurratu Aini sempat merasakan pahitnya penolakan dari satu kampus luar negeri. Namun siapa sangka, kegagalan itu justru menjadi titik balik.
Aini diterima kuliah pada 11 universitas ternama di Australia dan Selandia Baru. Dia sudah mengantongi 11 letter of acceptance (LoA) dari kampus tersebut.

“Alhamdulillah, saya sudah mendapatkan 11 LoA dari 11 universitas di Australia dan New Zealand,” ujar Aini, Sabtu (11/4/2026).
Sebanyak enam universitas di Australia menerima Aini, yakni Bond University, University of Wollongong, Western Sydney University, Curtin University, RMIT University, dan Swinburne University of Technology. Sementara di Selandia Baru, ia diterima di University of Otago, Lincoln University, Auckland University of Technology, University of Canterbury, serta Victoria University of Wellington.
Aini menjelaskan, program yang ia pilih adalah jenjang sarjana (S1) dengan mayoritas jurusan psikologi. Seluruh proses pendaftaran dilakukan secara mandiri melalui jalur direct entry dengan mengakses langsung laman resmi masing-masing universitas.
Perjalanan Aini menuju kampus internasional tidaklah instan. Tekad untuk melanjutkan studi ke luar negeri mulai tumbuh sejak duduk di kelas XI, tepat setelah ia gagal lolos dalam program pertukaran pelajar perempuan ke Amerika Serikat, TechGirls.
“Sejak saat itu saya bertekad harus bisa ke luar negeri, khususnya ke negara maju,” katanya.
Perjalanan tersebut semakin terarah berkat bimbingan salah satu gurunya, Nova Yurika, yang merupakan lulusan luar negeri. Dari sang guru, Aini mendapatkan banyak informasi, motivasi, hingga strategi mempersiapkan diri untuk menembus kampus internasional.
Ia kemudian mulai serius mempersiapkan berbagai persyaratan, mulai dari kemampuan bahasa Inggris hingga dokumen administratif. Saat duduk di kelas XII, Aini mengikuti tes IELTS di Medan dan berhasil meraih skor 6,5, nilai yang memenuhi standar pendaftaran di berbagai universitas luar negeri.
Tak hanya itu, ia juga menyiapkan paspor, kartu identitas, sertifikat prestasi, hingga transkrip nilai akademik. Proses pendaftaran intensif dilakukan sejak Januari hingga Maret 2026.
“Walaupun saya sempat ditolak di satu universitas, yaitu Nanyang Technological University (NTU) Singapura, tetapi alhamdulillah saya mendapatkan 11 LoA dari kampus lain,” tuturnya.
Aini mengakui, perjuangan tersebut penuh tantangan. Ia hanya memiliki tiga sertifikat internasional yang baru diraih pada 2025, berasal dari lomba esai dan program pertukaran pelajar domestik. Ia pun harus menghabiskan banyak waktu untuk menulis dan mempersiapkan berkas.
“Cukup melelahkan, tapi semua terbayar,” katanya ringan.
Meski telah mengantongi banyak pilihan, Aini belum menentukan universitas mana yang akan dipilih. Hal ini karena sebagian besar tawaran yang diterima masih berupa beasiswa parsial.
Saat ini, ia tengah berjuang memburu beasiswa penuh, termasuk mendaftar program Beasiswa Garuda serta melirik peluang di Hong Kong Polytechnic University (PolyU).
“Target saya adalah mendapatkan beasiswa penuh, jadi saya masih terus berusaha,” ujarnya optimistis.
Atas capaian tersebut, Aini menyampaikan rasa terima kasih kepada pihak sekolah, khususnya Kepala SMA Negeri Tunas Bangsa, Naini Afrita, para guru, serta kedua orang tuanya, Amiruddin dan Meliyati, yang terus memberikannya dukungan penuh.
Kisah Aini menjadi bukti satu penolakan bukanlah akhir, melainkan awal dari peluang yang lebih besar, bahkan hingga menembus belasan pintu kampus dunia.













