Menu

Mode Gelap
Senyum Bahagia Anak Disabilitas, Kapolres Aceh Selatan Bantu Kursi Roda untuk Ikram Bupati TRK Pimpin Upacara HUT ke-81 RI di Nagan Raya Lukman Terpilih Secara Aklamasi Pimpin Pemuda Pancasila Seunagan Periode 2026–2029 Polisi Tangkap Oknum Brimob Bandar Narkoba, Seorang Anggota POM TNI Gugur Saat Bantu di TKP  Yayasan Putroe Aceh Nanggroe Raya serahkan 73 SK Guru dan Tenaga Kependidikan  ‎ Sang Senior Kembali Dapat Amanah Cak Imin untuk Pimpin PKB Nagan Raya 

Hukum

Pengurus Wilayah Yayasan P2TP2A Aceh Selatan Soroti Kerentanan Perempuan dalam Berhadapan dengan Hukum

badge-check


					Pengurus Wilayah Yayasan P2TP2A Aceh Selatan Soroti Kerentanan Perempuan dalam Berhadapan dengan Hukum Perbesar

Narasiterkini.com, Tapaktuan – Pengurus Wilayah Aceh Selatan Yayasan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2TP2A) Rumoh Putroe Aceh, Karmisa, A.Md, Keb, menyoroti kerentanan perempuan dalam berhadapan dengan hukum.

Menurutnya, ada berbagai faktor yang menyebabkan perempuan terjerat persoalan hukum, sehingga memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak.

Karmisa menjelaskan bahwa faktor ekonomi menjadi salah satu pemicu utama. Banyak perempuan yang terpaksa melanggar hukum karena tekanan ekonomi, seperti terlibat dalam kasus pencurian, penipuan, atau aktivitas ilegal lainnya demi memenuhi kebutuhan hidup.

Selain itu katanya, faktor pendidikan yang rendah juga berkontribusi pada minimnya pemahaman perempuan terhadap hukum, membuat mereka rentan dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

“Perempuan sering kali terjebak dalam situasi yang sulit karena keterbatasan pendidikan dan pengetahuan hukum. Mereka bisa menjadi korban eksploitasi atau bahkan pelaku karena tekanan ekonomi atau lingkungan sosial,” ungkap Karmisa pada Kamis 16 Januari 2025.

Tambahnya, adapun faktor lainnya adalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan lingkungan sosial yang tidak mendukung. Banyak perempuan yang menjadi korban KDRT atau kekerasan seksual, namun dalam proses mencari keadilan, justru berujung pada konflik hukum karena lemahnya dukungan atau ketidak tahuan cara melindungi diri secara hukum.

Karmisa menekankan pentingnya pencegahan dengan memberikan edukasi hukum kepada perempuan, khususnya di wilayah pedesaan.

“Edukasi menjadi kunci utama agar perempuan memahami hak-hak mereka, serta tahu langkah apa yang harus diambil jika berhadapan dengan masalah hukum,” tambahnya.

Ia juga menyerukan kolaborasi antara pemerintah, organisasi masyarakat, dan berbagai lembaga untuk menciptakan program pemberdayaan yang efektif. Langkah ini menurutnya sangat penting untuk memberikan perlindungan dan mencegah perempuan terjerat persoalan hukum.

“Pendampingan psikologis, ekonomi, dan hukum sangat dibutuhkan. Selain itu, akses terhadap informasi yang mudah dan transparan harus menjadi prioritas,” tutup Karmisa.

Dengan langkah preventif dan kolaborasi yang kuat, diharapkan perempuan dapat lebih terlindungi dan terhindar dari risiko berhadapan dengan hukum, sekaligus berdaya dalam menghadapi tantangan hidup. (RO)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Akademisi UIN Lhokseumawe Dukung Kortas Tipikor Polri: Perkuat Pemberantasan Korupsi

14 Juli 2026 - 17:59 WIB

Diduga Bantu Pelangsir Solar Subsidi, Dua Operator SPBU di Darul Makmur Ditetapkan Sebagai Tersangka

8 Juli 2026 - 15:50 WIB

Tak ada Pemilik, Polisi Temukan 2.000 Liter Diduga BBM Bio Solar Bersubsidi di Gunong Nagan 

3 Juli 2026 - 14:28 WIB

Coba Main Minyak Solar Subsidi Secara Ilegal di Nagan Raya, Dua Warga Pidie Terpaksa Berurusan dengan Polisi

25 Juni 2026 - 23:26 WIB

Usai Polda Aceh Terbitkan DPO Oknum ASN di DSI Tersangka Pelecehan Seksual, Berikut Rangkaian Proses Hukumnya….

11 Juni 2026 - 18:46 WIB

Trending di Hukum