Menu

Mode Gelap
Breaking news: Korban Banjir Tuntut Janji Pemerintah, Arus Lalin di Dua Jalur Sempat Terganggu  Bupati TRK Lepas 170 Jamaah Calon Haji Nagan Raya, Dirangkai Prosesi Peusijuek di Masjid Giok Muscab V PPP Nagan Raya Digelar, Perkuat Konsolidasi dan Siapkan Kepengurusan Baru Warga Geram, Lapor Keuchik Cot Bayu Terkait Pengelolaan Dana Desa Diduga Tidak Transparan Bank Aceh Tuntaskan Sosialisasi dan Aktivasi IBC Non Tunai Gampong Se Nagan Raya, Siap Launching Awal Juni Pemkab Nagan Raya Bersama Bank Aceh Cabang Jeuram Sosialisasikan Transaksi Non Tunai Dana Desa

Hukum

Rektor UIN Ar Raniry Nilai DSI Gagal, Ketua YARA Sarankan Peleburan Dinas

badge-check


					Rektor UIN Ar Raniry Nilai DSI Gagal, Ketua YARA Sarankan Peleburan Dinas Perbesar

Narasiterkini.com, Banda Aceh- Pernyataan Rektor UIN Ar-Raniry, Prof Dr. Tgk H. Mujiburrahman, bahwa Penerapan Syariat Islam di Aceh telah gagal adalah Statemen paling berani dan telah lama ditunggu-tunggu oleh Publik Lokal, Nasional dan Internasional.

“Selama ini tidak ada pejabat Lembaga Agama yang berani menyentuh aspek Kegagalan Syariat Islam di Aceh. Semua agaknya pada takut bersuara, padahal nyata sekali bermasalah. Kami Apresiasi Prof Mujib yang sangat berani,” kata Ketua Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA), Safaruddin SH, kepada Awak Media di Banda Aceh. Minggu, (07/08/2022).

Safaruddin menyebutkan, Syariat Islam yang diterapkan harus mengacu pada konsep Maqasid Syariah yaitu “Terjamin Keselamatan Agama, Jiwa, Akal, Keturunan dan Harta”.

“Sekarang kita lihat di Aceh rakyat kesulitan mendapatkan akses materi atau harta, sementara Pejabat kaya-kaya. Aceh termiskin di Sumatera. Ini fakta yang kronis,” kata Safar yang juga Ketua Tim Pengacara Muslim Wilayah Aceh.

Safaruddin menambahkan, ada laporan yang menyebutkan bahwa penutupan bank konvensional sebagai bank yang selama ini memudahkan Bantuan Modal Usaha bagi UMKM di pedesaan dan rendah benefit menjadi salah satu penyebab yang memperparah tingkat kemiskinan di Aceh.

“Akses Rakyat Jelata untuk mendapatkan Modal Usaha (Harta) yang rendah bunga sangat sulit. Makanya rentenir menjamur”, katanya.

Safaruddin melanjutkan, dalam Aspek Akal atau Pendidikan demikian juga. “Mutu atau kualitas Pendidikan Aceh pada tahun 2021 berada di peringkat 25, di bawah Papua Barat. Nah, adakah yang peduli soal ini,,,? Tidak ada,” kata Safar.

Untuk itu, Safaruddin menyarakan agar Dinas Syariat Islam di Aceh dibubarkan saja, dalam artian norma syariat Islam harus ada pada semua dinas (SKPA/SKPD) di Aceh, baik tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota.

“Semua SKPA atau Dinas adalah bagian dari Syariat Islam. Jadi tidak perlu ada Dinas Syariat Islam secara khusus. Konsep ini pernah diutaran Prof Yusny Saby dalam pengajian Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam di Banda Aceh bulan Juli 2022 lalu,” kata Safaruddin.

“Maksud kami, di Aceh harus ada Dinas Syariat Islam bidang Pendidikan, Dinas Syariat Islam bidang PU, Dinas Syariat Islam bidang Pemberdayan Perempuan-Anak, Dinas Syariat Islam bidang Pertanian, Dinas Syariat Islam bidang Sosial dan seterusnya,” Safaruddin mencontohkan.

“Jadi tidak perlu Dinas Syariat Islam secara khusus. Itu tong kosong. Makanya implementasi Syariat Islam di Aceh tidak maksimal,” tutup Safaruddin. (RO)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Warga Geram, Lapor Keuchik Cot Bayu Terkait Pengelolaan Dana Desa Diduga Tidak Transparan

10 Mei 2026 - 15:15 WIB

Brimob Ikut Razia Gabungan di Lapas Kelas IIB Meulaboh, Senjata Tajam dan HP Turut Disita

8 Mei 2026 - 14:38 WIB

Mobil Diduga Milik Perusahaan ZTE Terperosok ke Sawah di Abdya

29 April 2026 - 10:22 WIB

Rumah Warga di Perumahan Alue Kambuk Nagan Raya Dibobol, Uang Ratusan Juta Ikut Raib

26 April 2026 - 12:23 WIB

SMP Unit Blangpidie Larang Siswa Bawa Sepmor ke Sekolah

23 April 2026 - 00:13 WIB

Trending di Hukum