
Narasiterkini.com | Blangpidie – Pemerintah Aceh menetapkan status siaga bencana hidrometeorologi pada 13–20 April 2026 menyusul peringatan dini cuaca ekstrem. Aceh Barat Daya (Abdya) menjadi salah satu wilayah yang diminta meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi hujan lebat, angin kencang, dan petir dalam sepekan ke depan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat dinamika atmosfer di Aceh dipicu pola siklonik, shearline, dan konvergensi yang mempercepat pertumbuhan awan hujan. Kondisi ini berpotensi memicu hujan sedang hingga lebat hampir di seluruh wilayah pada 11–20 April 2026.
Risiko bencana pun meningkat, terutama banjir, tanah longsor, dan angin kencang di kawasan rawan. Pemerintah daerah diminta memperkuat kesiapsiagaan, mulai dari pemantauan hingga respons darurat.
Bupati Abdya, Safaruddin, menegaskan seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) harus siaga penuh. Badan Penanggulangan Bencana Kabupaten (BPBK) diminta memastikan personel dan peralatan siap, serta meningkatkan intensitas pemantauan di titik rawan.
“Warga juga kami imbau menghindari aktivitas di wilayah berisiko saat cuaca ekstrem,” katanya, Selasa, 14 April 2026.
Selain itu, pemerintah gampong diminta segera membersihkan saluran drainase guna mencegah penyumbatan yang dapat memicu banjir. Safaruddin menekankan, deteksi dini dan kesiapan lapangan menjadi kunci menekan dampak bencana.
Ketua DPRK Abdya, Roni Guswandi, mengingatkan seluruh pemangku kepentingan tidak lengah. Ia menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor—mulai dari pemerintah daerah, TNI/Polri, relawan, hingga aparat desa—agar respons darurat berjalan cepat dan tepat.
“Mitigasi harus dilakukan bersama. Kita tidak boleh bergerak sendiri-sendiri,” ucapnya.
Roni juga mendorong pembaruan data wilayah rawan, optimalisasi drainase, serta kesiapan logistik dan alat berat. Menurutnya, kondisi geografis Abdya yang mencakup pegunungan, pesisir, dan aliran sungai memperbesar risiko longsor di hulu dan banjir di hilir. (*)













