Menu

Mode Gelap
Dari Shalawat hingga Semangat Kebangsaan, Brimob Batalyon C Gelar Maulid Bersama Ribuan Warga Kini Hadir Bengkel SR Auto Service Darul Makmur dengan Peralatan Kerja Serba Canggih PT Socfindo Kebun Seunagan Bantu Bersihkan Parit Akses Pertanian Masyarakat Lingkungan Perusahaan  Sosok Polisi Peduli Sosial, Aipda Jonni Rahmad Bangun Empat Rumah untuk Fakir Miskin 14 Putra-putri Nagan Raya Menimba Ilmu ke Mesir dan Maroko Kurdi Resmi Jadi Sekda Definitif Aceh Barat, Bupati Tarmizi Tekankan Penguatan Birokrasi

Hukum

Penambang Ilegal Kian Menjamur, LBH JKA Minta Pemkab Aceh Selatan Bersikap

badge-check


					Penambang Ilegal Kian Menjamur, LBH JKA Minta Pemkab Aceh Selatan Bersikap Perbesar

Narasiterkini.com, Tapaktuan- Lembaga Bantuan Hukum Jendela Keadilan Aceh (LBH-JKA) meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Selatan agar segera menetapkan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) di Aceh Selatan. Tujuannya agar para penambang Tradisional yang kian menjamur di beberapa Wilayah di Aceh Selatan bisa beroperasi secara Legal.

“Jika telah memenuhi kriteria, maka Wilayah tersebut ditetapkan menjadi WPR oleh Bupati/Walikota setempat setelah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi dan berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK). Penetapan WPR disampaikan secara tertulis oleh Bupati/Walikota kepada Menteri dan Gubernur,” jelas Direktur LBH-JKA, Muhammad Nasir SH. Senin, (05/04/2021) malam

Menurut Muhammad Nasir, penetapan WPR itu penting untuk menjawab persoalan yang dihadapi para Penambang Tradisional akhir-akhir ini.

Pasalnya, tanpa adanya penetapan WPR, maka para Penambang Tradisional tidak bisa memperolehan Izin Pertambangan Rakyat (IPR).

“Sebab IPR itu diperoleh Setelah penetapan WPR. IPR ini sendiri merupakan izin untuk melaksanakan usaha pertambangan dalam Wilayah Pertambangan Rakyat dengan luas Wilayah dan Investasi terbatas,” jelas Muhammad Nasir.

Karenanya, setiap usaha Pertambangan Rakyat pada WPR baru dapat dilaksanakan apabila telah mendapatkan IPR. IPR ini diberikan untuk jangka waktu paling lama 5 Tahun dan dapat diperpanjang.

“Untuk memperoleh IPR pemohon wajib menyampaikan surat permohonan kepada Bupati/Walikota. Jadi masyarakat tidak terlalu rumit dan tidak memerlukan biaya besar untuk mengurus izin pertambangan lainnya,” ujarnya.

Muhammad Nasir juga mengatakan, kewenangan memberikan ijin berada di Pemerintah Pusat dengan Undang- Undang (UU)  No 3 Tahun 2020. Namun, dengan adanya penetapan WPR itu, penambang Tradisional sudah bisa legal melakukan usaha Pertambangan Rakyat dengan adanya IPR dari Bupati.

“Kendati demikian, Pemerintah juga harus menyusun aturan pengolahan dan pemurnian.Tambang oleh Rakyat. Untuk menyusun dan merealisasi aturan itu juga tentunya harus kita legalkan dulu Usaha Pertambangan Rakyat di Aceh Selatan dengan dasar penetapan WPR itu tadi,” saran Muhammad Nasir.

Sebagai mana diketahui, usaha Tambang Tradisional kian marak digarap oleh masyarakat di beberapa Wilayah dalam Kabupaten Aceh Selatan. Bukan hanya menelan korban jiwa, bahkan beberapa pelaku Penambang Tradisional juga terpaksa harus berurusan dengan pihak Berwajib, sebagaimana kasus di kawasan Gunung Rotan, Kecamatan Labuhan Haji Timur beberapa waktu lalu.

“Kasusnya karena Usaha Pertambangan mereka tidak memiliki izin. Saat ini LBH-JKA menjadi Kuasa Hukum, karena mereka tergolong tidak mampu secara finansial,” papar Muhammad Nasir.

Olehkarenanya, menurut Muhammad Nasir, untuk menjawab persoalan yang dihadapi Penambang Tradisional tersebut, LBH-JKA meminta Pemkab Aceh Selatan untuk segera menetapkan WPR di Aceh Selatan.

“Tujuannya agar para Penambang Tradisional yang kian menjamur di beberapa Wilayah di Aceh Selatan ini bisa beroperasi secara Legal, sehingga Dinas Lingkungan Hidup juga bisa melakukan pembinaan terhadap Penampang Tradisional terkait bagaimana cara pengolahan Hasil Tambang Tradisional dengan aman dan terhindar dari bahaya bahan Kimia,” ungkap Muhammad Nasir. (Rils/Hi)

Tinggalkan Balasan

1 Komentar

  1. Bereh…
    Kebijakan pemerintah sudah semestinya di kontrol demi kebutuhan masyarakat.
    Gua sepakat.

semua sudah ditampilkan
Baca Lainnya

Akademisi UIN Lhokseumawe Dukung Kortas Tipikor Polri: Perkuat Pemberantasan Korupsi

14 Juli 2026 - 17:59 WIB

Diduga Bantu Pelangsir Solar Subsidi, Dua Operator SPBU di Darul Makmur Ditetapkan Sebagai Tersangka

8 Juli 2026 - 15:50 WIB

Tak ada Pemilik, Polisi Temukan 2.000 Liter Diduga BBM Bio Solar Bersubsidi di Gunong Nagan 

3 Juli 2026 - 14:28 WIB

Coba Main Minyak Solar Subsidi Secara Ilegal di Nagan Raya, Dua Warga Pidie Terpaksa Berurusan dengan Polisi

25 Juni 2026 - 23:26 WIB

Usai Polda Aceh Terbitkan DPO Oknum ASN di DSI Tersangka Pelecehan Seksual, Berikut Rangkaian Proses Hukumnya….

11 Juni 2026 - 18:46 WIB

Trending di Hukum