Menu

Mode Gelap
RSUD SIM Sampaikan Klarifikasi Informasi Pembayaran Tunjangan bagi ASN Puluhan Warga Tuntut Keadilan, Aksi Unjuk Rasa Depan Kantor Polres Aceh Barat, Sampai Bawa Poster Copot Kasat Reskrim Bupati TRK Hadiri Pelantikan Rektor Baru UTU, Dorong Penguatan Kolaborasi Pendidikan dan Pembangunan Semangat Baru untuk Pengabdian, Sebanyak 20 Personel Batalyon C Pelopor Brimob Polda Aceh Naik Pangkat Pernah Pimpin Disdik Nagan Raya, Kini Irwan Dapat Amanah Jadi Kadisdikbud Aceh Barat  Bupati Tarmizi Resmi Rotasi dan Promosi 13 Pejabat Dilingkungan Pemerintah Aceh Barat

Daerah

Peringati Hari Pers Nasional, SWI Aceh Barat Adakan Kegiatan Diskusi Publik Terkait Kerusakan Lingkungan

badge-check


					Foto/IST: Kegiatan Diskusi Publik oleh DPD SWI Aceh Barat Perbesar

Foto/IST: Kegiatan Diskusi Publik oleh DPD SWI Aceh Barat

Narasiterkini.com, Meulaboh – Dewan Pimpinan Daerah Sekber Wartwan Indonesia (DPD SWI) Aceh Barat melakukan kegiatan diskusi publik bersama Masyarakat, LSM, OKP dan Ormas Aceh Barat. Berlangsungnya kegiatan bertempat di Aula Bapeda Aceh Barat, Kamis (17/2/2022).

 

Merujuk kepada keluhan dan keresahan Masyarakat Aceh Barat, Pada kegiatan diskusi publik tersebut, SWI DPD Aceh Barat mengangkat tema ” Peran dan harapan masyarakat pada wartawan dalam menyelamatkan lingkungan di bumi Teuku Umar”.

 

Dalam kegiatan tersebut turut dihadiri tiga narasumber yakni, Zulkarnaini Marsy (ketua Forum Jurnalis (FJL), Dr. Rahmat Pramulya S.TP., M.M (Dosen Univesitas Teuku Umar (UTU), serta Fitriadi, S.Pd.i (Ketua Dewan Pengurus daerah (DPD) Sekber Wartwan Indonesia (SWI) Aceh Barat, kegiatan berlangsung dengan khidmat dan diakhiri makan bersama dengan para tamu undangan serta panitia pelaksana SWI Aceh Barat.

 

Ketua SWI Aceh Barat Fitriadi, S.Pd.i saat diwawancarai mengatakan, SWI ikut berpartisipasi merayakan Hari Pers Nasional dengan kegiatan diskusi publik tentang penyelamatan lingkungan, kegiatan ini dilaksanakan dengan panggilan hati nurani dimana peringatan pers merupakan tanggup jawab moral bagi wartawan yang ada di seluruh indonesia.

 

Menurut Fitriadi, tema itu dipilih mengingat banyak tambang illegal ataul illegal mining yang diduga mengabaikan aturan, sehingga menyebabkan kerusakan lingkungan. Maka perlu peran dari rekan-rekan media demi menyelamatkan alam di wilayah Barsela, ujarnya.

 

“SWI merupakan salah satu organisasi kewartawanan yang diakui Pemerintah, dan terus aktif memberikan konstribusi kongkrit terhadap kemajuan dan pembangunan bangsa,” ungkapnya.

 

Maka dari itu, SWI didorong untuk menjalankan peran dan fungsinya dengan baik serta mampu bersinergi dangan pemerintah, termasuk lembaga lainnya agar aspirasi masyarakat tersampaikan.

 

“Sebagai organisasi profesi, SWI terus melakukan pembinaan dan membekali para anggotanya dengan berbagai kemampuan demi terwujudnya wartawan propesionan dan berintegritas sesuai amanat Undang-undang Nomor 4 tahun 1999 tentang pers,” jelas Fitriadi.

 

Sementara itu ketua FJL Zulkarnaini Barsy dalam materi nya menyampaikan beberapa persoalan yang terjadi di Aceh Barat saat ini yaitu persoalan yang serius yang harus kita tangani bersama adalah tambang emas illegal yang hingga kini belum terselesaikan.

 

Yang menjadi pertanyaan saat ini adalah kenapa penambang emas ilegal sampai saat ini masih bertahan baik di wilayah Aceh Barat maupun di daerah lainya, hal ini diduga dikarenakan adanya oknum oknum-oknum yang tidak bertangungjawab yang memberikan akses atau ruang bagi mereka untuk menambang, dan ini jelas perbuatan yang salah karena ikut mendukung dalam pengrusakan lingkungan di sekitar,” jelas Masry.

 

Saat diskusi berlangsung Dr. Rahmat Pramulya kepada para tamu undangan menjelaskan bahwa saat ini yang menjadi salah satu misi manusia adalah untuk ikut andil dalam menjaga lingkungan, namun yang terjadi saat ini ialah membuka kebebebasan para pengrusak hutan jika kita lihat menggunakn google map tutupan bumi kita telah rusak,”ungkapnya.

 

“Benar manfaaat kehadiran tambang di wilayah Aceh Barat yaitu membuka lowongan kerja, menciptakan perputaran uang, mendatangankan pendapatan bagi daerah, menciptakan sektor usaha lain kontribusi pertambangan pada pengembangan Lembaga masyarakat serta Interaksi SDA-Ekonomi- Lingkungan hidup dan bertujuan untuk pembangunan,” jelasnya.

 

Namun disamping itu yang perlu kita perhatikan adalah, Tambang yang kita Kelola saat ini ada dampak lebih besar dari skla wilayah, dan dampak yang mendalam, diantaranya kerusakan sumberdaya air, kehilangan keragaman hayati, pencemaran debu, kehilangan situs budaya, gangguan keseimbangan siklus air, karbon, dan lain lain serta terganggunya kesehatan.

 

“Maka oleh sebab itu dirinya menyarankan agar dalam hal ini mari sama-sama kita menangulangi atau mengevaluasi permasalah yang saat ini terjadi terkait dengan lingkungan kita khususnya wilayah Aceh Barat yang terjadi saat ini, lamban laun jika permaslahan ini terlalu di kemudiankan maka tidak menutup kemungkinan dampak ini akan mengancam diri kita sendiri nantinya.”tutupnya. (Dani)

 

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

RSUD SIM Sampaikan Klarifikasi Informasi Pembayaran Tunjangan bagi ASN

1 Juli 2026 - 14:03 WIB

Puluhan Warga Tuntut Keadilan, Aksi Unjuk Rasa Depan Kantor Polres Aceh Barat, Sampai Bawa Poster Copot Kasat Reskrim

1 Juli 2026 - 00:22 WIB

Semangat Baru untuk Pengabdian, Sebanyak 20 Personel Batalyon C Pelopor Brimob Polda Aceh Naik Pangkat

30 Juni 2026 - 16:09 WIB

Pernah Pimpin Disdik Nagan Raya, Kini Irwan Dapat Amanah Jadi Kadisdikbud Aceh Barat 

29 Juni 2026 - 17:26 WIB

DLHK Aceh Barat Diminta Tangani Sampah Pesisir Pantai, Warga: Jangan Hanya Action Saja di Media

28 Juni 2026 - 17:43 WIB

Trending di Daerah