Menu

Mode Gelap
Warga Nagan Raya dihebohkan Penemuan Mayat Pria di Areal Perkebunan Sawit  Bupati TRK Instruksikan Rehabilitasi Irigasi Lung Tiga Hari Pertama Sekolah Usai Libur Lebaran, Dinas Dikbud Nagan Raya Terbitkan SE Mantan Komisioner KIP Nagan Raya Dukung Penunjukan Komisaris Utama PT Pema Global Energi Dayah Abu Muda Habib Seumayam di Kuala Baroe diresmikan, Ini Harapan Bupati TRK Perkuat Adipura PUPR Aceh Barat Serahkan Kontainer ke DLH

Peristiwa

Kasus Tabrakan Kapal Nelayan Masih Ngambang, DPR Janji Panggil Pihak PT Mifa Bersaudara

badge-check


					Kasus Tabrakan Kapal Nelayan Masih Ngambang, DPR Janji Panggil Pihak PT Mifa Bersaudara Perbesar

NarasiTerkini.com, Meulaboh- Terkait kecelakaan Kapal Nelayan yang diduga dengan sebuah Kapal Pengangkut Barang Berat yang terjadi pada pekan lalu masih mengambang dan tidak ada satu pihakpun dari Lembaga Pemerintahan Aceh Barat yang mengetahui.

Persoalan tersebut kini mulai di bahas dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Barat pada Selasa (31/08/2021) kemarin.

Dalam RDP itu ikut hadir Pihak Syahbandar Meulaboh, Panglima Laot, Dinas Perikanan dan Kelautan, Anggota DPRK, Komisi II, Ketua DPRK, serta Wakil II DPRK yang memimpin RDP.

Dalam kesempatan tersebut,  H. Kamaruddin, SE, selaku Pimpinan RDP menanyakan Kronologis Kejadian Kecelakaan tersebut, pertanyaannya itu dijawab secara bergantian yang ikut hadir pada RDP tersebut.

Salah Satu yang mewakili Pihak Syahbandar Meulaboh menyampaikan Kronologis tersebut bahwa, kejadian hari itu memang ada Satu Kapal yang berangkat dari Perairan Meulaboh menuju India, namun berdasarkan Investigasi Internal terhadap pergerakan Kapal tersebut mereka berangkat pada Pukul 19.25 Wib.

“Kapal tersebut dengan haluan 269 sampai 272 itu memang arahnya ke Srilangka sana, pada Pukul 20.52 Wib Posisi Automatic Identification System (AIS) mati, jadi pihak kami tidak bisa memantau Kapal itu lagi, kemudian Posisi AIS mati berada pada 16 Mil dari Bibir Pantai Meulaboh,” katanya.

Mengenai kejadian tersebut, pihak Syahbandar sudah mencari tahu melalui sistem elektronik bahkan melalui Keagenan Kapal, selanjutnya Syahbandar juga menyuruh keagenan menanyakan kepada Pihak Kapal tersebut, nah sedangkan Pihak Kapal itu menjawab tidak pernah merasa menabrak Kapal Nelayan,” jelasnya.

Kemudian Panglima Laot dalam kesempatan itu juga menjawab, dengan harapan Kapal yang sudah rusak bisa tergantikan dengan baik, dan dia juga berharap kepada DPRK atau Pihak Pemerintah setempat dapat membantu dan bersinergi dalam persoalan ini.

“Kami dari Panglima Laot berharap kepada Pemerintah setempat agar sesegera mungkin persoalan ini diselesaikan, mengingat Korban yang kita ketahui sampai hari ini mengalami kesusahan dibidang pendapat sehari-hari dikarenakan Kapal yang sering digunakan untuk mencari Ikan rusak dan tidak bisa digunakan lagi,” harap panglima laot.

Menanggapi beberapa tanggapan dari berbagai sumber yang terkait, pimpinan RDP H. Kamruddin, SE, menyampaikan bahwa kesimpulan hari tersebut belum bisa memastikan Kapal mana yang menabrak Kapal Nelayan.

Maka Untuk itu agenda Rapat Dengar Pendapat tersebut ditunda dan dilanjutkan pada hari Kamis (02/09/2021) yang nantinya akan memanggil PT Mifa Bersaudara serta Pihak Terkait lainnya, untuk dapat membantu mengungkapkan Peristiwa tersebut. (Dani)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Warga Nagan Raya dihebohkan Penemuan Mayat Pria di Areal Perkebunan Sawit 

30 Maret 2026 - 21:46 WIB

Hebohkan Penemuan Mayat Pria di Areal Perkebunan Sawit. | Foto : ist

Harap Berhati-hati, Oknum Gunakan Foto Ketua PWI Aceh Barat Diduga untuk Penipuan

18 Maret 2026 - 16:00 WIB

Korban Banjir di Lamie Tak Dapat Bantuan Serbu Kantor Keuchik, Kapolsek Darul Makmur Tenangkan Massa

18 Maret 2026 - 14:43 WIB

Panitia Lokal Tak Becus, PWI Aceh Tamiang Kecam Pengusiran Wartawan di Acara Santunan Anak Yatim BSI

10 Maret 2026 - 10:51 WIB

Innalillahi, Perjuangan untuk Keluarga Tuha Peut Terpilih ini Berakhir di Lintasan Gunong Trans Gagak

11 Februari 2026 - 12:24 WIB

Trending di Peristiwa