
Ketua Pospera Abdya, Subki.
Narasiterkini.com | Blangpidie – Ketua Posko Perjuangan Rakyat (Pospera) Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Subki menilai polemik di internal kepala sekolah terlalu berlebihan terkait isu mosi tidak percaya yang ditujukan Irma Suryani selaku Plt Kepala Cabang Dinas Pendidikan Aceh wilayah Abdya.
Hal tersebut dikatakannya menanggapi isyu yang beredar dimasyarakat terkait mosi tak percaya terhadap Plt Kacabdin Abdya Irma Suryani, Sabtu, 11 April 2026.

Sejumlah kepala Sekolah Menengah Atas (SMA) dibawah Cabang Dinas (Cabdin) Abdya menyatakan mosi tak percaya terhadap Irma Suryani sebagai Plt Kacabdin diduga memiliki misi terselubung, Subki menilai rekam jejak Irma Suryani saat menjadi kepala sekolah sangat bagus dan banyak prestasi yang telah ia raih.
“Saya menilai ada hal lain ini, karena sosok Irma Suryani dikenal sangat bagus karirnya ketika menjadi kepala sekolah, beliau sangat disiplin, bertanggungjawab dan mempunyai target prestasi yang harus dicapainya,” ujar Subki.
Menurutnya, ia malah sangat mendukung kehadiran Irma Suryani, selama menjabat di kabupaten tersebut, Irma Suryani mampu menjalankan amanah pemerintah provinsi dalam memajukan dunia pendidikan di kabupaten Abdya.
”Pospera Abdya mendukung penuh Irma Suryani, kita fokus berbenah demi kemajuan dunia pendidikan tanpa menghiraukan persoalan sepele, jangan sampai pendidikan di Abdya hancur karena disebabkan oleh kepentingan segelintir orang,” ucapnya.
Lanjutnya, ia berharap Pemerintah Aceh segera melantik Irma Suryani sebagai Kacabdin definitif, ia menyebut rekam jejak Irma Suryani mengukir banyak prestasi disetiap sekolah menengah yang pernah ia pimpin sebelumnya.
“Saya berharap Pemerintah Aceh segera lantik Irma Suryani menjadi Kacabdin Abdya definitif,” harap Subki.
Ia menambahkan, kepentingan politik telah menggiring nama Irma Suryani yang saat ini dianggap memiliki peran penting dalam jabatan struktural cabang dinas, disisi lain Subki menilai justru kompetitor terbaik itu ada pada Irma Suryani sendiri, sehingga tidak menutup kemungkinan ada pihak yang ingin merebut posisi tersebut.
Sebelumnya, Irma Suryani dituding dengan isu komunikasi yang dinilai tertutup, intervensi berlebihan hingga dugaan tekanan administratif, meskipun begitu Irma pribadi lebih memilih untuk tidak menghiraukan persoalan menyudutkan dirinya.
Irma Suryani mengklaim jika tudingan itu benar-benar terjadi dapat dibuktikan dengan referensi media mendominasi pemberitaan, Irma menyesali kejadian yang terkesan dipolitisir itu masih terjadi setelah kegiatan coffee morning Kacabdin dan para kepala sekolah bersama pewarta Abdya. (*)














