Narasiterkini.com | Blangpidie – Sejak berdirinya Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) 2002 silam, dan setiap perayaan tahunan dilaksanakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab), selalu meriah hingga pemberian cinderamata kepada orang-orang yang dianggap berperan dalam melahirkan daerah berjuluk Bumo Breuh Sigupai.
Seperti malam penutupan acara pergelaran seni dan budaya, dan Abdya Award, sejumlah tokoh-tokoh hebat Abdya menaiki panggung utama dan menerima penghargaan dari pemerintah setempat, karena atas jasanya terhadap Abdya hingga saat ini.

Namun, berbeda dengan nasib sosok ulama yang menjadi panutan di Abdya ini, Tgk H Abdurahman Badar. Beliau sangat berperan lahirnya Kabupaten Aceh Barat Daya ini, akan tetapi, namanya selalu luput dari sebutan tokoh layaknya tokoh-tokoh yang lain penerima penghargaan selama ini.
Sejak Kabupaten Abdya ini berdiri, almarhum Tgk H Abdurahman Badar (telah meninggal dunia) pernah menjabat sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Abdya sejak 2005 hingga 2016, namun semasa hidupnya Abu Abdurahman tidak pernah mengeluh soal itu, karena pengabdiannya dengan penuh keikhlasan memperjuangkan kemaslahatan umat.
Diantara nama-nama besar yang diumumkan, sepatunya tercatat nama Tgk H Abdurahman Badar dan nama tokoh-tokoh lainnya yang ikut memperjuangkan Kabupaten Abdya. Sebab, di masa itu perjuangan membentuk daerah otonomi baru bukanlah hal mudah. Dibutuhkan keberanian, keteguhan, serta dukungan moral dari tokoh-tokoh yang dipercaya masyarakat.
Pimpinan Pesantren Khazanatul Hikam Kemukiman Kuta Tinggi Kecamatan Blangpidie ini hadir sebagai representasi ulama yang membawa suara umat, memperjuangkan harapan agar Abdya berdiri sebagai daerah yang mandiri dan lebih sejahtera.
Namun, ironi sejarah tak jarang terjadi. Dalam berbagai peringatan hari ulang tahun Kabupaten Abdya, nama beliau hampir tak pernah disebut. Padahal, kontribusinya bukan hanya sebatas dukungan, tetapi juga bagian dari fondasi lahirnya daerah tersebut.
Hal ini menjadi renungan bersama, bahwa terkadang jasa besar bisa terpinggirkan oleh waktu dan lupa.
Selain perannya dalam proses lahirnya Abdya, Tgk. H. Abdurrahman Badar juga dikenal sebagai tokoh penting dalam pembangunan moral dan keagamaan masyarakat.
Sebagai pimpinan Dayah Khazanatul Hikam, beliau mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan generasi muda. Dari dayah yang beliau bina, lahir santri-santri yang tidak hanya memahami ilmu agama, tetapi juga memiliki akhlak dan kepedulian terhadap masyarakat.
Beliau menanamkan nilai keikhlasan, perjuangan, dan pengabdian sebagai bagian dari jalan hidup.
Sosok Tgk H Abdurrahman Badar adalah cerminan ulama yang bekerja tanpa pamrih. Tidak mencari popularitas, tidak mengharapkan pujian, namun meninggalkan jejak yang begitu dalam bagi daerah dan umat.
Justru karena keikhlasannya itulah, namanya kini nyaris tenggelam dalam ingatan kolektif. Sudah saatnya masyarakat Abdya kembali membuka lembaran sejarah dengan jujur dan adil.
Mengangkat kembali nama-nama yang berjasa, termasuk Tgk H Abdurrahman Badar, sebagai bentuk penghormatan dan pelajaran bagi generasi penerus.
Sebab sebuah daerah tidak hanya dibangun oleh infrastruktur, tetapi juga oleh nilai, perjuangan, dan doa para ulama.
Semoga segala jasa dan pengabdian beliau menjadi amal jariyah yang terus mengalir, dan Allah SWT menempatkan beliau di tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin.
Tulisan : Hirman (Santri Tgk H Abdurrahman Badar)














