Menu

Mode Gelap
Investasi Tembus Rp406 Miliar di Awal 2026, TRK: Peluang Investasi Besar yang Tengah Dipersiapkan 200T STIMI Meulaboh Lepas KKN-KPM, Camat Kaway XVI: Kehadiran Mahasiswa Harus Memberikan Manfaat Nyata  Sempat di Kritik, Mahasiswa Simeulue ini Apresiasi Sikap Terbuka Ketua Fraksi DPRA Nasdem Dapil 10  Perkuat Nilai Keagamaan, Pemuda Samatiga Gelar Beut Panteu Keude Perdana di Cot Seumeureung Puluhan Tahun Menanti Bantuan Pemerintah Tak Kunjung Tiba, Kini Warga Pasie Kualaba’u Galang Donasi Mandiri  Terkait Reses ke Simeulue, Berikut Klarifikasi Anggota DPR Aceh Dapil 10 Fraksi Nasdem 

Opini

Mudik, Sopir dan Dilema Pos Penjagaan Covid-19

badge-check


					Mudik, Sopir dan Dilema Pos Penjagaan Covid-19 Perbesar

Narasiterkini.com, Banda Aceh- Ketika bicara mudik tentu yang dipikirkan oleh sang sopir (driver) adalah panen rejeki musiman, bukan malah sebaliknya, dan diharapkan tidak harus ada setor atau sejenisnya.

Sedangkan bagi penumpang angkutan darat kebahagiannya saat mudik adalah berkumpul dengan keluarga dalam merayakan hari kemenangan atau lebaran.

Lebaran tahun 2021 tentu sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, dengan situasi sekarang yang masih dalam kondisi pandemi tentu tidak menyenangkan semua pihak.

Nasib sedih lainnya yang dialami oleh penumpang dan sang Driver, untuk menghindari Pos penjagaan Covid-19, jalan tikus (jalan yang tidak semestinya dilalui) menjadi alternatif untuk menghindari pemeriksaan petugas, jadi sasaran oleh sang Driver.

Ketika melihat situasi seperti ini seakan Pemerintah tidak hadir ditengah mereka (sopir dan penumpang) yang ingin nyaman dalam merayakan lebaran bersama keluarga, Sungguh UUPA yang katanya mujarab dalam segala hal kalah dengan Provinsi NTB yang tidak ada regulasi UUPA, malah kekuatan kebijaksanaan yang dilakukan oleh sang Gubenur membuat lega para pemudik lintas Kabupaten/Kotanya.

Kehadiran Negara seperti di NTB adalah impian semua Daerah, tidak terkecuali Aceh. Harusnya, saat berperan sebagai pengaman jalan para petugas harus memerankan fungsinya dengan baik dan mampu menyederhanakan setiap ucapannya. Meskipun hal yang terjadi ternyata sesuatu yang tidak diinginkan oleh pemudik terjadi, seperti dituntut bagi pemudik untuk putar arah atau kembali kelokasi semula.

Sungguh situasi ini menjadi petaka buruk bagi Pemimpin Aceh, terutama Stakeholder terkait (Forkopimda) setiap mengambil keputusan dengan tanpa disadari akan keputusan semua pihak.

Bukankah Aceh juga sama masih dalam lingkup NKRI yang seharusnya juga mendapatkan hak yang sama dalam pelayanan publik dibidang mudik, bukan sebaliknya.

Prokes (protokoler kesehatan) yang harusnya diterapkan Seperti : Surat Keterangan Hasil Negatif Tes RT-PCR/ Rapid Tes Antigen atau Surat Keterangan Hasil Negatif Tes GeNose gratis yang diutarakan oleh Stakeholder hanya sebagai semboyan semata, yang pada akhirnya kondisi ini hanya diindahkan oleh mereka yang berduit. Sehingga jelas Negara hanya hadir untuk warga kelas menengah keatas bukan untuk semua kelas.

Disisi lain, saat Pribumi dilarang (dengan adanya penyekatan dari petugas) untuk mudik sementara WNA asal Negara Cina terus berdatangan ke Indonesia (dikutip dari beberapa sumber media nasional). sungguh hal itu melukai hati masyarakat Aceh khususnya dan Indonesia umumnya.

Pada kondisi ini catatan penulis adalah : Pertama, pentingnya semua Stakeholder baik Vertikal maupun Horizontal harus menjalankan tugasnya Terintegrasi satu Instansi dengan Instansi lain.

Kedua, kehadiran Negara (Forkopimda) harus menjadi satu acuan kerja yang menyederhanakan setiap kebijakan dan keputusannya untuk para pemudik dan sopir.

Ketiga, setiap warga yang mudik dan juga sopir harus menjalankan Prokes sesuai seruan dan edaran yang telah disampaikan, dan laporkan setiap aturan yang melanggar seruan yang tidak tertera dalam seruan.

Penulis : Masrizal, S.Sos., MA, Mahasiswa Doktoral UGM Yogyakarta dan Dosen Sosiologi USK yang juga sebagai pemerhari kabijakan publik. (*)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Sempat di Kritik, Mahasiswa Simeulue ini Apresiasi Sikap Terbuka Ketua Fraksi DPRA Nasdem Dapil 10 

19 Juni 2026 - 07:16 WIB

TRK: Saya Ingin Realisasikan Janji Nagan Bagaikan Brunai, Jika Kehadiran Investasi Ditolak Maka Bukan Saya Ingkar Janji 

10 Juni 2026 - 16:12 WIB

Dianggap Suara Masyarakat Beutong Ateuh Diabaikan, Mahasiswa Minta Dibuka Forum Dengar Pendapat 

4 Juni 2026 - 13:52 WIB

Anggota DPRK Ini Optimis dengan Bupati TRK, Investasi Rp200 Triliun Jadi Kabar Baik Salah Satunya Tekan Angka Pengangguran

28 Mei 2026 - 09:29 WIB

Belum Pulih dari Bencana, Pemerintah Harus Transparan Terkait Izin Eksplorasi Tambang di Beutong Ateuh 

21 Mei 2026 - 09:48 WIB

Trending di Opini